Dalam sebuah ungkapan hadits dikatakan bahwa “Wanita adalah Tiang Negara” yang bermakna hadirnya wanita atau dengan kata lain sebagai seorang ibu menentukan maju dan tidaknya sebuah negara dari negara terbelakang, menjadi negara berkembang, hingga menjadi negara maju.

Hal ini dimaknai karena terbentuknya sebuah generasi dimulai dari pendidikan keluarga, dalam hal ini peranan wanita sebagai seorang ibu sejak dini sudah menentukan keberhasilan anaknya kelak. Dan keberhasilan seorang anak akan menjadi sebuah keberhasilan generasi di masa yang akan datang. Ibu yang berpendidikan, ibu yang berwawasan, ibu yang kuat akan melahirkan anak yang berpendidikan, berwawasan, serta generasi yang kuat.

Namun dalam kenyataannya, pendidikan untuk wanita belum merata di Indonesia. Karena kuatnya tradisi, banyak perempuan yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi. Banyak perempuan di beberapa daerah di  pelosok Indonesia masih kurang mendapatkan pendidikan. Hal itu biasanya karena kurangnya fasilitas sekolah dan kebutuhan keluarga yang mewajibkan mereka menjadi tulang punggung keluarga.

Di sisi lain karena faktor adat, banyak para wanita di Indonesia umumnya di pelosok daerah telah melalui pernikahan dalam usia dini. Hal ini mengakibatkan mereka menjadi orang tua sementara kondisi psikologinya belum matang. Hal ini berdampak dalam cara mengasuh dan mendidik anak-anak mereka.

Di satu sisi kesadaran kesehatan perempuan Indonesia cenderung tertinggal. Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi. Kesadaran tentang pentingnya kualitas hidup perempuan, khususnya para ibu dan anak  serta keluarganya dalam masalah kesehatan masih minim.

Dalam masalah kesetaraan gender, perempuan Indonesia khususnya di daerah pelosok masih di bawah laki-laki, hingga tidak jarang para perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga maupun pelecehan dalam masyarakat. Ini juga dimungkinkan dari pernikahan usia dini dengan kondisi kedewasaan yang masih minim.

Dari berbagai hal di atas mengakibatkan perempuan Indonesia mengalami kondisi yang memprihatinkan, sehingga hak-hak yang mestinya didapatkan seperti misalnya dalam kesetaraan gender, hak mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak masih jauh dari yang diharapkan. Tidak jarang dari kekerasan yang dialami dalam rumah tangganya mereka tidak bisa berbuat apa-apa,demikian juga halnya dengan pelecehan seksual yang dialami para perempuan dimana bisa mengakibatkan gangguan mental  bahkan bisa menyebabkan kematian.  Inilah potret hak atas perlindungan hukum yang semestinya mereka dapatkan, tidak mereka mengerti atau mereka dapatkan.

yayasan pemberdayaan perempuan

Berangkat dari masalah-masalah di atas tentang perempuan Indonesia, menginspirasi kami para penggiat pembemberdayaan perempuan membuat sebuah wadah untuk membantu para perempuan Indonesia dengan satu lembaga yang kami namakan Yayasan Swara Srikandi. Yayasan ini mewadahi semua kegiatan untuk membantu para perempuan menyadari dan mendapatkan hak hidupnya, hak kesehatan, hak atas perlindungan hukum dan lainnya.